Seputartikus.com,— (31 Desember 2025) Program unggulan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi fondasi kesehatan generasi bangsa, justru berubah menjadi ancaman kesehatan serius bagi siswa di SD Negeri 3 Kalibeji, Sempor, Kebumen. Temuan buah busuk, instruksi “susu terlarang”, hingga laporan siswa yang mengalami gangguan pencernaan menunjukkan adanya lubang besar dalam sistem pengadaan dan pengawasan program ini.
Kegagalan Total “Quality Control”
Sangat tidak masuk akal jika bahan pangan yang jelas-jelas busuk dan susu yang berisiko terkontaminasi bisa lolos hingga ke tangan siswa. Dalih pihak sekolah mengenai “pengecekan sesuai SOP” berbenturan keras dengan fakta di lapangan. Jika SOP berjalan, buah busuk tidak akan pernah masuk ke dalam paket makanan. Hal ini mengindikasikan bahwa pengawasan kualitas hanya dilakukan di atas kertas, bukan pada fisik komoditas.
“Cold Chain” dan Logistik yang Amatir
Kejadian susu rasa stroberi yang dilarang konsumsi setelah dibagikan menunjukkan adanya kegagalan pada Rantai Dingin (Cold Chain) atau integritas produksi vendor (SPPG).
Instruksi susulan yang terlambat adalah tindakan ceroboh yang mempertaruhkan nyawa anak-anak. Pihak penyedia harus dimintai pertanggungjawaban hukum atas kelalaian distribusi bahan pangan sensitif ini.
“Bukan Sekadar Makan yang Penting Kenyang”
Penyajian tiga butir telur asin dalam satu porsi tanpa sayuran segar bukan hanya tidak menarik, tetapi merupakan malpraktik nutrisi. Kadar natrium yang melonjak dari telur asin sangat berisiko bagi ginjal anak-anak dalam jangka panjang. Program ini seharusnya berbasis sains gizi seimbang, bukan sekadar proyek pengadaan komoditas yang mengabaikan kaidah kesehatan

Segera melakukan audit laboratorium terhadap sampel susu dan makanan yang dibagikan.
Melakukan evaluasi total dan mencopot vendor (SPPG) jika terbukti ada unsur kesengajaan atau kelalaian berat dalam penyediaan bahan pangan.
Membentuk tim pengawas independen yang melibatkan komite sekolah untuk melakukan pemeriksaan mendadak (sidak) di setiap titik distribusi.
“Anggaran besar untuk program ini berasal dari pajak rakyat. Memberikan makanan busuk kepada anak-anak bukan hanya masalah administrasi, melainkan penghinaan terhadap komitmen mencerdaskan bangsa.”
Tim Redaksi Prima
Seputartikus.com
