Seputertikus.com,— 19 Desember 2025 Sebuah bangunan megah tak terpakai kini menjadi saksi bisu kegagalan proyek pembangunan SMK “Center of Excellence” (CoE) di Kecamatan Nalo Tantan, Kabupaten Merangin, Jambi. Proyek yang menelan dana hibah Kementerian sebesar Rp 1,6 miliar ini, didirikan pada tahun 2015 di lahan Pondok Pesantren Darul Mualla, seharusnya menjadi pusat pendidikan permesinan dan konstruksi. Namun, alih-alih berfungsi, sekolah ini kini terbengkalai, memunculkan pertanyaan besar siapa pihak yang paling bertanggung jawab atas pemborosan dana miliaran rupiah ini.
Buya Khudri, pimpinan Pondok Pesantren Darul Mualla, pada tgl 10 Desember 2025 menyatakan bahwa lahan yang digunakan untuk pembangunan SMK adalah aset yayasan yang telah dihibahkan. Ia mengakui minimnya minat siswa menjadi kendala utama operasional SMK, dengan hanya tercatat lima hingga enam siswa. Saat ini, gedung tersebut dimanfaatkan untuk kegiatan belajar Madrasah Aliyah pesantrennya. Namun, ia tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai proses pengajuan proposal dan penggunaan dana hibah yang seharusnya menjadi tanggung jawab pengelola sekolah.
Pada 18 Desember 2025, Zuhdi, mantan kepala sekolah SMK CoE, ditemui di kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Merangin. Ia menyatakan bahwa sekolah tersebut memiliki 100 siswa saat ia memimpin di awal. Zuhdi menekankan bahwa ia hanya berperan sebagai pelaksana. Ia menjelaskan dasar pendirian sekolah adalah pondok pesantren, dan Buya Khudri memegang tanggung jawab untuk menjamin pasokan siswa. “Ado surat pernyataannyo,” katanya.
Zuhdi menjelaskan bahwa ia mengundurkan diri setelah peralihan sekolah dari kabupaten ke provinsi pada tahun kedua kepemimpinannya. Ia tidak lagi diizinkan memimpin karena status PNS yang di sekolah swasta ditarik. Posisinya kemudian digantikan oleh Pak Irman, mantan pengawas.
Fenomena ini mengarah pada dugaan adanya permainan dalam pengajuan proposal dan kejanggalan pengelolaan dana hibah. Hal ini patut dicurigai mengingat persyaratan “Center of Excellence” yang seharusnya didukung data kuat mengenai kebutuhan dan calon pendaftar.
Terungkapnya minimnya jumlah siswa yang kontras dengan persyaratan proposal pembangunan sekolah “Center of Excellence” menjadi sorotan. LSM Sapu Rata menegaskan bahwa proposal semacam itu wajib didukung data yang kuat. Fakta bahwa sekolah tersebut hanya memiliki sedikit siswa menimbulkan spekulasi adanya permainan dalam proses pengajuan proposal dan kejanggalan dalam pengelolaan dana hibah.
Beberapa guru yang direkrut saat pembangunan sekolah melaporkan jumlah siswa hanya berkisar lima hingga enam orang. Salah satu guru tersebut mengaku hanya menjalankan tugas administratif dan tidak terlibat dalam pengelolaan dana. Zuhdi sendiri menyatakan bahwa jumlah siswa menurun drastis pada masa kepemimpinan setelah dirinya.
Investigasi lebih lanjut diperlukan untuk mengungkap pihak yang benar-benar bertanggung jawab atas fenomena “sekolah mati” atau “ghost school” ini. Perencanaan yang tidak matang dan minimnya analisis kebutuhan diduga menjadi penyebab utama kegagalan proyek sekolah ini.
Bersambung..
Reporter: Gondo irawan
