Seputartikus.com,–28 Februari 2026 Kampung Lubuk, Muaro Bungo, kini berada dalam sorotan tajam publik. Wilayah ini disebut-sebut sebagai “zona merah” peredaran narkoba yang tak kunjung terjamah oleh tindakan hukum yang menyasar aktor intelektualnya.
Sementara penangkapan terus terjadi, pola yang berulang justru memicu tanda tanya besar: Mengapa bandar besar seolah “kebal hukum” sementara hanya pelaku kelas teri yang menjadi tumbal?
Nama-nama yang santer disebut publik, seperti inisial “Inal” dan hercules,” diduga kuat berperan sebagai pengendali jaringan narkoba skala besar di wilayah tersebut. Namun, hingga saat ini, keduanya tetap melenggang bebas.
Fenomena penangkapan yang hanya menyasar kurir atau pengguna skala kecil, menciptakan kesan adanya tebang pilih dalam penegakan hukum (diskriminatif) terhadap jaringan besar yang diduga dikendalikan oleh nama-nama di atas.
Kampung Lubuk, Muaro Bungo, yang kini secara terbuka dilabeli oleh masyarakat sebagai sarang peredaran narkoba yang terorganisir.
Pola ini telah berlangsung lama dan menjadi rahasia umum di telinga aparat, namun hingga detik ini, belum ada aksi nyata yang mampu memutus mata rantai distribusi utama di wilayah tersebut.
Muncul spekulasi keras di tengah masyarakat mengenai adanya “pelindung” atau keterlibatan oknum aparat nakal yang membiarkan jaringan besar ini beroperasi demi kepentingan tertentu. Ketiadaan tindakan tegas terhadap bandar utama memicu mosi tidak percaya terhadap integritas penegakan hukum setempat.
Polisi diminta tidak lagi terjebak pada angka statistik penangkapan pelaku kecil. Masyarakat mendesak dilakukannya investigasi mendalam (follow the money, follow the network) untuk membongkar struktur organisasi narkoba ini hingga ke akarnya.
Kami mendesak Kapolda Jambi dan Kapolres Bungo untuk melakukan evaluasi total terhadap Satresnarkoba.
Tidak ada alasan bagi aparat untuk tidak mampu menangkap bandar besar jika ada kemauan politik (political will) dan integritas untuk memberantas narkoba hingga ke akarnya.
Jika jaringan besar ini tetap tak tersentuh, maka pertanyaan publik akan tetap sama: Siapa sebenarnya yang dilindungi di balik seragam aparat?
Tim Investigasi Redaksi
